Resensi Buku
Fiksi
Pengarang : Nh. Dini
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 1996
Cetakan : Mei 1996
Buku ini
termasuk jenis buku sastra. Dalam buku
ini menceritakan sebuah kenangan dari masa kanak-kanaknya. Akan tetapi
tidak semua orang mampu mengungkapkannya kembali secara tertulis, seperti yang
dilakukan Nh. Dini. Buku ini terdiri atas Sembilan bagian, yaitu :
Bagian I
Sejak beberapa
hari hujan turun ayam-ayam kerjanya terkantuk-kantuk sepanjang hari. Akhirnya
ayah memisahkan induk bersama anaknya. Sebab dari hujan tersebut, belakang
rumah menjadi banjir dan banyak
ikan-ikan kecil yang ada di sana. Akhirnya ayah membendung dan menyeroknya.
Bagian II
Pada waktu itu
ayah mau mengajak ke desa untuk liburan ke rumah kakek. Tetapi waktu itu
pikirannya hanya tertuju pada genangan air yang tak jauh dari ruangan makan.
Beberapa menit kemudian, akhirnya diajak ke desa.
Bagian III
Bepergian ke
luar kota bersama lima anaknya, bagi ibu berarti harus mempersiapkan makanan
secukup mungkin. Sehari sebelum berangkat, ibu membuat lemper, arem-arem, dan
merebus pisang kapok. Sekitar jam setengah sepuluh, kami berangkat menuju ke stasiun Tawang. Dan
kami tiba di rumah kakek sudah tampak gelap.
Bagian IV
Ah dirasakan
suasana kasahduan kehidupan rohani penghuninya. Setelah tiba di tempat kakek,
beliau menyambut dengan ramah. Kami pun tidur bertujuh di tempat tidur yang
sudah disediakan.
Bagian V
Pagi-pagi
sekali kami sudah bangun dan sholat berjamaah dengan kakek. Ketika sudah di
sana kami diajak oleh paman berkeliling ke mana-mana pada hari itu juga.
Bagian VI
Paman mengantar
kami sampai ke Gorang-Goreng. Ayah memutuskan bahwa kali ini kami tidak akan
singgah ke Pancalan, ke tempat Mbah Nyai seperti diusulkan ibu. Kami menunggu
bus di bawah pohon beringin yang kami kenal ketika dating.
Bagian VII
Akhirnya kami
sampai kembali di rumah, kuperhatikan kesibukan yang tidak semestinya mengambil
peranan di segala penjuru.
Bagian VIII
Sekolah bagiku
adalah tempat yang akan mengurungku dari pagi sampai siang. Tempat aku harus
duduk tak bergerak di atas bangku sempit dan tinggi.
Bagian IX
Sejak waktu
itu, setiap hari baik siang maupun malam seringkali ada serangan.
Kesimpulan :
Dalam Sebuah
Lorong di Kotaku ini, Dini mengisahkan kembali peristiwa-peristiwa yang
dialaminya pada tahun-tahun terakhir jaman pada penjajahan Belanda hingga
masuknya tentara Jepang. Diceritakan
antara lain pengalaman ramai-ramai menyerok ikan di belakang rumah
ketika banjir, mengunjungi kakek-kakek, pertama kali masuk sekolah, ikut
mengungsi, dan lain-lain.

0 komentar:
Posting Komentar